Tampilkan postingan dengan label Jalan Taqwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan Taqwa. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juli 2019

TIGA WASIAT RASULULLAH SHALLAHU ALAIHI WA SALLAM



أبي أيُّوب الأنصاري رضي الله عنه أنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: عِظْنِي وَأَوْجِزْ، وفي رواية عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ، فَقَالَ ـ عليه الصَّلاة والسَّلام ـ:«إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا، وَأَجْمِعِ اليَأسَ مِمَّا فِي يَدَيِ النَّاسِ»(1) 


Dari Abu Ayyub Al-Anshory radiyallahu anhu,  ada seorang laki laki datang kepada Nabi shallahu 'alaihi wa sallam kemudian (laki-laki) tersebut berkata : Ya Rasulullah, nasehatilah aku dengan nasehat yang singkat, di dalam riwayat yang lain , laki laki itu berkata : ajarilah aku sesuatu yang ringkas, kemudian Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam bersabda : apabila engkau berdiri untuk melaksanakan sholat, maka sholatlah seolah olah anda akan berpisah (dengan dunia ini), janganlah anda mengucapkan suatu ucapan yang mendatangkan penyesalan di esok hari (hari kiamat) dan berputus asalah dari apa apa yang dimiliki oleh manusia ( tidak berharap pemberian mereka). [HR. Ahmad dan Ibnu Majah ]

📄 Di dalam hadits di atas terdapat tiga wasiat Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam, 

Rabu, 08 Mei 2019

TERUSLAH MEMINTA dan MEMOHON HANYA KEPADANYA

 

Saudara dan Saudariku seiman..

Beberapa hari atau  beberapa bulan yang lalu kita berdoa kepada Allah agar kita dipertemukan dengan bulan Ramadhan, karena kita tau dengan pasti, bulan Ramadhan adalah bulan penuh ampunan dan keberkahan. 

Saat ini doa itu telah dikabulkan oleh Allah, kita telah bertemu dengan bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Setelah kita bertemu dengannya, apakah kita berhenti memohon dan berdoa kepada Allah ? Jawabannya tentunya tidak.  Kita perlu meminta kepadaNya taufiq dan pertolongan untuk bisa memanfaatkan bulan Ramadhan ini dengan sebaik baiknya, kita minta kepadaNya agar kita diberikan kemudahan dalam beramal sholeh, kemudahan untuk meninggalkan maksiat.

Hendaknya kita ingat, kita ini manusia yang lemah, yang tidak bisa melakukan apa-apa kecuali dengan pertolongan dari Allah. Diantara dzikir yang kita baca ;

لا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ

"Tidaka ada daya dan kekuatan melaikan dengan pertolongan Allah".

Mari kita bersimpuh dan memelas kepadaNya untuk memohon pertolongan agar kita bisa meningkatkan ibadah di dalam bulan yang mulia ini, sehingga kita benar benar menjadi orang yang bertaqwa.

Ya Allah tolonglah kami untuk senantiasa berdzikir kepadaMu, dan bersyukur kepadaMu, dan memperbaikan amal sholeh yang kami persembahkan hanya untukMu.


BEBERAPA MACAM IBADAH DI WAKTU SAHUR ⏰🕰

Kamis, 02 Mei 2019

NIKMAT ALLAH TAK DISYUKURI



Allah berfirman : 

إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ 

"Sesungguhnya manusia sangat tidak berterima kasih (tidak bersyukur) kepada TuhanNya". [QS. Al Adiyat : 6]

🌿 Hasan Al Basri -rahimahullah- ketika menjelaskan ayat diatas, beliau berkata :

قال: هو الكفور الذي يعد المصائب, وينسى نعم ربه.

Yaitu seseorang yang diingat itu hanya musibah-musibah yang terjadi (dalam hidupnya) dan dia melupakan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah.

[http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura100-aya6.html]

Senin, 29 April 2019

KEUTAMAAN MEMILIKI ANAK YANG SHOLIH


Dari Abu Huroiroh -radiyallahu 'anhu- bahwasannya Rasulullah shallahu ﷺ bersabda : 

⇐ إنَّ الرجُلَ لَتُرْفَعُ درجتُهُ في الجنةِ فيقولُ : أنَّى لِي هذا ؟ فيُقالُ : بِاستغفارِ ولَدِكَ لَكَ .

Sesungguhnya seseorang diangkat derajatnya di surga, kemudian orang tersebut berkata : dari mana aku mendapatkan kedudukan (yang mulia)  ini ? dikatakan kepadanya : disebabkan istighfar yang diucapkan anakmu untukmu. 

[hadits ini disebutkan oleh Syaikh Al-bany dalam shahihul jami' 1617]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-berkata : 

Anak yang sholeh senantiasa mendoakan ampunan untuk ayahnya, sampai dosa-dosa ayahnya diampuni, kemudian diangkat derajatnya di surga. 

[Syarah alwasiyyah as sughro : 131]

Jumat, 22 Maret 2019

Mutiara Nasehat: "HAKEKAT KEHIDUPAN"



Syaikh Sholih Alu Syaikh semoga Allah menjaga beliau berkata :

Kehidupan (di dunia ini) semuanya berisi UJIAN dan COBAAN. Segala sesuatu yang ada diatas muka bumi ini juga merupakan ujian. Sebagaimana disebutkan di dalam awal surat al-kahfi ;

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً 

Jumat, 15 Februari 2019

LARANGAN MEMPERSULIT ORANG LAIN


بسم اللّه الرحمن الرحيم 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله 

oleh: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA Hafizhahullah.

Shahabat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, Kita masuk pada hadits yang ke-20.

وَعَنْ أَبِي صِرْمَةَ - رضى الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم -{ مَنْ ضَارَّ مُسْلِمًا ضَارَّهُ اَلله, وَمَنْ شَاقَّ مُسَلِّمًا شَقَّ اَللَّهُ عَلَيْهِ } أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ. 

Dari shahabat Abi Shirmah radhiyallahu Ta'ala 'anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda: 

"Barangsiapa yang memberi kemudharatan kepada seorang muslim, maka Allah akan memberi kemudharatan kepadanya, barangsiapa yang merepotkan (menyusahkan) seorang muslim maka Allah akan menyusahkan dia."

(Hadits riwayat Abu Dawud nomor 3635, At Tirmidzi nomor 1940 dan dihasankan oleh Imam At Tirmidzi). 

Makna dari hadits ini tanpa diragukan lagi adalah makna yang benar apalagi ada hadits-hadits lain yang menguatkan (semakna) dengan hadits ini. 

Contohnya seperti hadits yang shahih dalam Shahih Muslim nomor 1828, Nabi pernah berdoa: 

  اَللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ   

"Ya Allah, barangsiapa yang mengurusi urusan umatku kemudian dia merepotkan umatku maka susahkanlah dia."

Hadits ini menunjukan akan dua perkara penting dalam syari'at, yaitu: 

Selasa, 20 November 2018

Penting: KEMENANGAN TUSTAR vs SHOLAT SUBUH

Imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam al bidayah wan nihayah juz ke tujuh bahwa Anas bin Malik radhiyallahu anhu selalu menangis bila mengingat peristiwa penaklukan Tustar.
(imam Bukhari menyebutkan dlm shohihnya no 945, ibnu Abi Syaibah dlm mushonnaf 18/308 dan Ibnu Sa'ad dlm thobaqot 5/333)
Tustar adalah sebuah kota milik kerajaan Persia yg sangat kuat bentengnya dan pertahanannya.
Kaum muslimin mengepungnya setahun setengah (!!).
Kemudian jatuh ke tangan kaum muslimin. Mereka mendapatkan kemenangan yg nyata. Itu termasuk kemenangan yg paling sulit yg didapat kaum muslimin.
Jadi, kenapa Anas menangis bila mengingat peristiwa Tustar?!
Mengapa beliau menangis, padahal kaum muslimin mendapatkan kemenangan yg besar?!
Takluknya pintu benteng Tustar terjadi beberapa saat sebelum sholat Subuh.
Pasukan Islam berhasil masuk kedalam benteng.
Terjadi peperangan besar antara 30.000 pasukan Islam menghadapi 150.000 pasukan Persia(!!)

Senin, 19 November 2018

CELAAN MANUSIA TIDAK MEMBAHAYAKAN, PUJIAN MANUSIA TIDAK MENINGGIKAN


Saudaraku rahimakumullaah, sudah ketetapan Allah 'azza wa jalla, barangsiapa menempuh jalan yang lurus, akan dicela dan ditentang oleh musuh-musuh kebenaran, tapi itu tidak membahayakanmu.

Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam bersabda,


لاَ يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ ، وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ

"Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang tetap teguh dengan ajaran Allah, orang yang merendahkan mereka tidak membahayakan mereka, orang yang menentang mereka tidak membahayakan mereka, sampai datang ketentuan Allah menjelang hari kiamat, dan mereka tetap teguh di atas kebenaran." [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Mu'awiyah radhiyallaahu'anhu]

Selasa, 13 November 2018

RUQYAH MANDIRI DENGAN DAUN BIDARA / SIDR



Pohon bidara disebut dalam Al-Quran

Didalam Al-Quran, pohon bidara disebutkan beberapa kali. Salah satunya adalah:

وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ. فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ

Artinya: Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada diantara pohon bidara yang tidak berduri. (Q.S. Al Waqiah: 27-28)

Secara singkat, golongan kanan adalah golongan yang akan masuk surga. Kemudian nantinya didalam surga mereka para golongan kanan berada di antara pohon bidara yang tidak berduri. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa pohon bidara tersebut adalah pohon bidara yang telah dipotong durinya.

Daun bidara disebut dalam hadits


– Dari Qois bin ‘Ashim radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّهُ أَسْلَمَ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Sesungguhnya beliau masuk Islam, kemudian Nabi shallallahu‘alaihiwasallam memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun bidara.” (HR. An Nasai no. 188, At Tirmidzi no. 605, Ahmad 5/61. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

– Hadits yang lain menjelaskan tentang perintah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummu ‘Athiyah dan kepada para wanita yang melayat untuk memandikan anaknya.

اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مَنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kapur barus (wewangian).” (HR. Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939).

Senin, 24 September 2018

HAKEKAT KEHIDUPAN


Syaikh Sholih Alu Syaikh -semoga Allah menjaga beliau berkata :

Kehidupan (di dunia ini) semuanya berisi UJIAN dan COBAAN. Segala sesuatu yang ada diatas muka bumi ini juga merupakan ujian. Sebagaimana disebutkan di dalam awal surat al-kahfi ;

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً * 

"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapa diantara mereka yang terbaik amalnya". [QS. Al-Kahfi : 7]

Jadi , kehidupan dunia itu mudah, akan tetapi yang menjadikan sulit adalah ketika manusia tertipu dengannya. Pertanyaan besar yang (perlu jawaban) yaitu bagaimana manusia (kita) bisa keluar dari ujian kehidupan (dunia) ini dengan selamat.

[Diterjemahkan dari cuplikan ceramah beliau di  "الحياة كلها ابتلاء واختبار   معالي الشيخ صالح آل الشيخ حفظه الله" di YouTube
https://youtu.be/nO1a8JifsXo]

Para pembaca, 
> makanan yang lezat, 
> minuman yang nikmat,
> tempat tinggal yang nyaman,
 > emas, perhiasan,
 > suara yang indah,
 > wajah yang rupawan,
 > semuanya adalah ujian dari Allah, siapa yang terbaik amal sholehnya.
  Yaitu siapa yang paling ikhlas dalam ibadahnya, 
  dan paling sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallahu a'laihi wa sallam. 
 [Diringkas dari Tafsir As-Sa'di rahimahullah].


Sumber:  Admin Grup WA Suara Al Iman

---------------------------------------------
IKLAN MINUMAn HERBAL YANG BERMANFAAT
TEH DAUN TIN




Jumat, 20 April 2018

SEDARI MUDA SUDAH BERAMAL


Allah Ta’ala berfirman,

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1) وَطُورِ سِينِينَ (2) وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ (3) لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6) فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8)

“Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tiin: 1-8)

Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” ada empat pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya seperti di waktu mudanya yaitu dalam keadaan kuat dan semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilih oleh ‘Ikrimah.

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”. Menurut Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Ibrahim dan Qatadah, juga Adh-Dhahak, yang dimaksudkan dengan bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat untuk beramal setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal.”

Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk beramal, berbeda dengan masa muda, yaitu masa emas untuk beramal shalih.

Ibrahim An-Nakha’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka dia akan dicatat sebagaimana dahulu (di waktu muda) dia pernah beramal. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah yang artinya “Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka. Walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, maka mereka tidak akan berhenti dari beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya.” (Lihat Zaad Al-Masiir, 9:172-174 dan Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 7:72)

Jika seseorang sulit beramal di waktu tua padahal waktu mudanya gemar beramal, maka ia tetap dicatat seperti keadaannya di waktu muda. Sama halnya keadaannya seperti orang yang sakit dan bersafar. Dalam hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau bersafar, maka dicatat baginya semisal keadaan ketika ia beramal saat mukim atau sehat.” (HR. Bukhari, no. 2996)


BERLINDUNG DARI KEADAAN JELEK DI WAKTU TUA

Selasa, 17 April 2018

UNTUKMU YANG USIA SUDAH 40 TAHUN



Allah Ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:

ROBBI AWZI’NII AN ASYKURO NI’MATAKALLATII AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALAA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOHU, WA ASHLIH LII FII DZURRIYATII.

“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Al-Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa orang yang telah mencapai usia 40 tahun, maka ia telah mengetahui besarnya nikmat yang telah Allah anugerahkan padanya, juga kepada kedua orang tuanya sehingga ia terus mensyukurinya.

Imam Malik berkata,

Senin, 29 Januari 2018

SEMUT PUN MENGAKUI ALLAH ADA DI ATAS LANGIT/ ARSY



Adalah akidah yang kurang tepat mengatakan:

“Allah ada dimana-mana” (berarti Allah ada di kotoran ada di WC)

“Allah ada di hati manusia dan dekat dengan urat nadi” (berarti Allah menyatu dengan manusia, karena hati adalah hakikatnya inti dari kerajaan tubuh)

“tidak tahu tuh, wallahu a’lam aja, kita serahkan ilmunya kepada Allah” (berarti tidak mengenal Allah dunk, katanya tidak kenal maka tak sayang)

“Allah tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan dan tidak pula di kiri, apalagi samping atau serong” (berati ini sama saja gak ada bendanya)

Jawabanya yang tepat adalah aqidah Ahlussunnah bahwa:

“ Allah ada di atas arsy atau di atas langit”

Terlalu banyak dalil jika dipaparkan, salah satunya bahwa semutpun mengakui bahwa Allah di atas arsy/langit. Artinya ini adalah fitrah manusia dan mahluk lainnya

Ini adalah kisahnya di Hadits, syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

وهذه الفطرة لا يمكن إنكارها. حتى إنهم يقولون : إن بعض المخلوقات العجماء تعرف أن الله في السماء كما في الحديث الذي يروى أن سليمان بن داود عليه الصلاة والسلام وعلى أبيه خرج يستسقي ذات يوم بالناس ، فلما خرج ؛ رأى نملة مستلقية على ظهرها ، رافعة قوائمها نحو السماء، تقول: “اللهم ! إنا خلق من خلقك ، ليس بنا غنى عن سقياك” . فقال: “ارجعوا ؛ فقد سقيتم بدعوة غيركم

“Ini adalah fitrah yang tidak mungkin diingkari, hingga ulama mengatakan bahwa sebagan mahluk mengetahui bahwa Allah di atas langit. Sebagaimana dalam hadits diriwayatkan bahwa Nabi Sulaiman bin Dawud ‘alaihissalam keluar untuk meminta hujan bersama manusia. Tatkala ia keluar, ia melihat semut yang terlentang di atas punggungnya, ia mengangkat kaki-kakinya (yang banyak, untuk berdoa) ke arah langit kemudian berkata,

“Yaa Allah, kami adalah mahluk ciptaan-Mu kami sangat membutuhkan hujan-Mu”

Maka Nabi Sulaiman berkat,

“kembalilah kalian (ke lubang), kalian telah diberi hujan karena doa selain kalian.”[1]


Selasa, 16 Januari 2018

FIR’AUN MENGINGKARI ALLAH DI ATAS ‘ARSY



Pengingkaran keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy bukan saja datang dari sekte sesat jahmiyah dan para pengekornya. Tapi jauh-jauh sebelumnya, keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy di ingkari oleh Fir’aun. Karena kedurhaka’annya menolak dakwah Nabi Musa ‘alaihis salam, lalu Allah Ta’ala menenggelamkan Fir’aun ke dasar laut.

Pengingkaran Fir’aun terhadap keberada’an Allah Ta’ala di atas ‘Arsy, Allah abadikan di dalam Al-Qur’an.

Allah Ta’ala berfirman :

وَقالَ فِرْعَوْنُ يا هامانُ ابْنِ لي صَرْحاً لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبابَ أَسْبابَ السَّماواتِ فَأَطَّلِعَ إِلى إِلهِ مُوسى وَ إِنِّي لَأَظُنُّهُ كاذِباً وَ كَذلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَ صُدَّ عَنِ السَّبيلِ وَ ما كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلاَّ في تَبابٍ

“Dan berkatalah Firaun, Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.” Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar), dan tipu daya Fir’un itu tidak lain hanyalah membawa kerugian”. (QS.Ghafir/Al Mu’min: 36-37).

Ayat di atas menceritakan tentang kesombongan dan kebodohan Fir’aun yang minta di buatkan sebuah bangunan tinggi yang tujuannya untuk melihat Allah yang di katakan oleh Nabi Musa berada di atas langit.

Terkait ayat di atas, seorang Ulama Ahli Tafsir Imam Al-Thabari rahimahullah (w. 310 H) berkata :

وقوله: (وَإِنِّي لأظُنُّهُ كَاذِبًا) يقول: وإني لأظنّ موسى كاذبا فيما يقول ويدّعي من أن له في السماء ربا أرسله إلينا.

“Dan firman-Nya (berkena’an kata-kata Fir’aun), “Dan sesungguhnya aku percaya Musa itu seorang pendusta !”, maksud perkata’an (Fir’aun) adalah, “Dan sesungguhnya aku percaya Musa ini pendusta terhadap apa yang dia katakan BAHWA MUSA MEMPUNYAI TUHAN DI LANGIT YANG MENGUTUSNYA”.

(Tafsir al-Thabari, 21/387, Tahqiq: Ahmad Syakir, cet Muassasah al-Risalah, cet Pertama, lihat juga: Tafsir ayat 38 Surah al-Qhasas).

Selasa, 24 Oktober 2017

BUAH APEL DENGAN WANITA BUTA, BISU, TULI & LUMPUH



[ TRAGEDI BUAH APEL ]
Tsabit… suatu ketika berjalan-jalan di sebuah kebun yang indah, tiba-tiba ia melihat buah apel lantas ia ambil lalu dimakannya

Setelah itu ia tersadar belum minta izin pada pemiliknya. Dengan perasaan gelisah akhirnya ia menemui pemilik kebun itu

Singkat cerita, yang awalnya pemilik kebun tersebut tidak ikhlas atas perilaku tsabit tersebut hingga susah payah tsabit membujuk pemilik kebun dan akhirnya pemilik kebun tersebut mengikhlaskan apel tersebut dengan syarat Tsabit harus menikahi putrinya yang buta, bisu, tuli dan lumpuh

Ia sangat terguncang dengan pilihan pemilik kebun itu.

Rabu, 11 Oktober 2017

FAEDAH SURAT AL-KAHFI, BAGIAN 03 DARI 09



Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA Hafizhahullah.

بسم اللّه الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 


In syā Allāh pada kesempatan kali ini kita akan bersama-sama berusaha untuk mengambil faedah-faedah dari surat Al Kahfi. 

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan: 

وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا

Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, "Allāh mempunyai seorang anak."

(QS Al Kahfi: 4)

Yang mengatakan Allāh memiliki anak ada 3 (tiga) golongan sebagaimana yang disampaikan oleh Al Qurthubi dan As Shinqithi rahimahullāh.  

3 golongan tersebut adalah: 

⑴ Orang-orang Yahūdi

Orang Yahūdi mengatakan: 

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّه

Orang-orang Yahūdi berkata: ''Uzāir itu putera Allāh."

 (QS At Taubah: 30)

Orang-orang Yahūdi mengatakan 'Uzāir adalah anak Allāh karena 'Uzāir telah menyalin kembali Taurāt setelah Taurāt tersebut hilang. 

Senin, 09 Oktober 2017

FAEDAH SURAT AL KAHFI, BAGIAN 02 DARI 09


oleh: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA

بسم اللّه الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 


In syā Allāh pada kesempatan kali ini kita akan bersama-sama berusaha untuk mengambil faedah-faedah dari surat Al Kahfi. 

Surat Al Kahfi disunnahkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bagi kita untuk membacanya sepekan sekali setiap hari Jum'at. 

Kita akan bacakan surat Al Kahfi dengan tafsiran yang ringkas yang saya ambil dari beberapa buku. Yang paling utama adalah 4 (empat) buku yaitu: 

⑴ Tafsir Ibnu Katsīr 
⑵ Tafsir Al Qurthubi 
⑶ Tafsir Abdurrahman bin Nahsir As Sa'di 
⑷ Tafsir Adhwā'ul Bayyān Ash Shanqiti 

(rahimahullāh jāmi'an) 

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman dalam ayat pertama surat Al Kahfi: 

 الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا 

"Segala puji bagi Allāh yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitāb (Al Qurān) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya."

Di ayat ini, Allāh Subhānahu wa Ta'āla memuji diri-Nya dengan nikmat yang sangat agung dan Allāh Subhānahu wa Ta'āla berhak untuk dipuji dengan seluruh nikmat yang telah Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan kepada kita. 

Tetapi Allāh Subhānahu wa Ta'āla memilih salah satu nikmat yang sangat agung, yang Allāh Subhānahu wa Ta'āla berikan kepada hamba-Nya (yaitu) Al Qurān. 

Turunnya Al Qurān merupakan nikmat yang sangat agung (sangat besar) maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla khususkan penyebutannya di awal surat Al Kahfi. 

 الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا

"Segala puji bagi Allāh yang telah menurunkan kepada hamba-Nya (yaitu nabi Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam) Al Kitāb (Al Qurān) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya."

Kata Syaikh Muhammad Al Amin Al Shanqiti rahimahullāh, عِوَجًا adalah kalimat nakirah dalam kontek penafi'an. 

وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا

"Dan kami tidak menjadikan kebengkokan di dalam Al Qurān tersebut."

Selasa, 26 September 2017

FAEDAH SURAT AL KAHFI, BAGIAN 01 DARI 09



Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA Hafizhahullah

بسم اللّه الرحمن الرحيم 
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, ونتوب إليه وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لا نبي بعده

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

فإنّ احسن الكلام كلام الله وَخَيْرَ الْهدى هدى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَاتٍ بدعة وكلّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ وكلّ ضلالة في النار 


In syā Allāh pada kesempatan kali ini kita akan bersama-sama berusaha untuk mengambil faedah-faedah dari surat Al Kahfi. 

Surat Al Kahfi adalah surat yang ke-18, yang disunnahkan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bagi kita untuk membacanya setiap hari Jum'at. 

Karena keutamaan membaca surat Al Kahfi banyak, di antaranya:

"Barangsiapa yang menghapal 10 ayat di awal surat Al Kahfi atau di akhir surat Al Kahfi, maka dia akan diselamatkan dari fitnah Dajjal." 

Di antaranya juga Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda dalam hadītsnya: 

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

"Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum'at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum'at."

(Hadīts riwayat An Nasāi' dan Baihaqi, Syaikh Al bāniy rahimahullāh mengatakan bahwa hadīts ini shahīh sebagaimana dalam Shahīhul Jami' nomor  6470)

Senin, 18 September 2017

TARBIYATUL_AULAD: Latih mereka untuk mencintai masjid

(Foto: Masjid Syuhada)

Wahai para ayah.. Ajaklah putra anda ke masjid, kenalkan mereka kelezatan beribadah di dalamnya. Sampaikan kepada mereka bahwasannya masjid merupakan tempat yang dicintai oleh Allah.

Gandeng tangan mereka untuk hadir juga di sejuknya taman-taman surga, tanamkan ke dalam hati mereka kecintaan kepada ilmu dan ahli ilmu.

Masjid merupakan madrasah tempat mendidik jiwa untuk taat kepada Allah. Masjid merupakan tempat mulia untuk mendidik generasi muda.

Wahai para ayah, ajak putra anda ke masjid untuk membiasakan mereka sholat berjama'ah, terlebih disaat mereka berusia 7 tahun. 

Semoga usaha kita dalam mengajak putra kita ke masjid bisa menjadikan mereka pemuda yang tumbuh diatas ketaatan kepada Allah dan menjadikan hati mereka (terpaut) selalu rindu untuk hadir dimasjid.